Memuat…Memuat…

Mulai mengetik untuk mencari berita...

Keranjang Anda masih kosong

✓ Produk ditambahkan ke keranjang

Anis Matta: Dunia Butuh Narasi Baru untuk Redam Islamofobia dan Perkuat Kerja Sama Negara Islam

Share to :
Anis Mata - Wamenlu RI


TheKhalifa.iD - Wakil Menteri Luar Negeri RI, Anis Matta, menilai dunia membutuhkan narasi baru dalam hubungan antarbangsa untuk meredam islamofobia, prasangka antaragama, serta penyalahgunaan identitas agama sebagai instrumen konflik geopolitik.

Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan yang diselenggarakan Serikat Jurnalis Muslim Indonesia (Sajid) di Gedung Konstitusi, Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Kamis (16/7), yang dihadiri sekitar 50 jurnalis dari berbagai media.

Menurut Anis, Indonesia saat ini mendorong peningkatan hubungan dengan negara-negara Islam ke tingkat yang lebih strategis. Hubungan tersebut tidak lagi hanya bertumpu pada sejarah, agama, dan budaya, tetapi juga diperkuat melalui integrasi ekonomi dan politik.

Ia mengingatkan bahwa ketakutan terhadap ideologi, negara, maupun agama sering kali direkayasa menjadi instrumen politik untuk membangun persepsi ancaman. Fenomena ini, menurutnya, terlihat dalam berbagai bentuk, mulai dari ketakutan terhadap China, Rusia, hingga Islam.

Karena itu, diplomasi Indonesia terus mengembangkan kerja sama dengan berbagai negara guna membangun narasi yang mendorong saling memahami latar belakang agama tanpa rasa saling mengancam. Salah satunya melalui penjajakan kerja sama dengan utusan khusus Belanda untuk urusan kebebasan beragama.

Anis juga mengusulkan agar pameran tentang Syekh Yusuf Al-Makassari tidak hanya digelar di Kedutaan Besar Belanda, tetapi juga di Benteng Rotterdam, Gowa, Sulawesi Selatan. Menurutnya, sejarah bersama dapat menjadi jembatan rekonsiliasi dan membantu mengurangi beban masa lalu.

Ia menegaskan bahwa selama residu sejarah terus dipelihara dalam ingatan kolektif, kerja sama antarbangsa akan sulit terbangun secara optimal.

Dalam paparannya, Anis mengajak peserta melihat keterkaitan berbagai peristiwa sejarah dunia, seperti jatuhnya Konstantinopel pada 1453, berakhirnya kekuasaan Islam di Andalusia pada 1492, hingga kedatangan Portugis ke Nusantara pada 1511 sebagai rangkaian perubahan geopolitik global.

Menurutnya, dunia modern semakin saling terhubung sehingga konflik di satu kawasan dapat berdampak langsung pada kawasan lain. Oleh sebab itu, diperlukan cara pandang yang lebih utuh melalui narasi baru yang mampu memperkuat pemahaman bersama.

Di akhir pemaparannya, Anis menekankan pentingnya peran media sebagai instrumen sosial yang membangun ruang diskusi publik. Ia menilai pemberitaan tidak seharusnya diukur dari kesesuaiannya dengan kebijakan pemerintah, melainkan menjadi sarana agar pemerintah dapat mendengar dan memahami aspirasi masyarakat.

[MoselemToday.com / Niesky H.P]