Memuat…Memuat…

Mulai mengetik untuk mencari berita...

Keranjang Anda masih kosong

✓ Produk ditambahkan ke keranjang

Dari Cordoba ke New Jersey: Ketika Jejak Peradaban Islam Menyertai Langkah Spanyol di Final Piala Dunia 2026

Share to :
Dari Cordoba Hingga Final Piala Dunia 2026
Dari Cordoba Hingga Final Piala Dunia 2026


TheKhalifa.iD - Final Piala Dunia 2026 nanti, mata dunia akan tertuju ke New York/New Jersey Stadium. Timnas Spanyol, La Furia Roja, akan berhadapan dengan Argentina di partai puncak Piala Dunia 2026, sebuah panggung yang mempertemukan dua raksasa sepak bola dunia. Namun jauh sebelum nama "Spanyol" identik dengan tiki-taka, Lamine Yamal, atau trofi La Liga, tanah yang sama pernah menjadi panggung dari salah satu babak paling gemilang dalam sejarah peradaban manusia: kejayaan Islam di Andalusia.

Ada semacam ironi yang indah ketika menyaksikan negeri ini kembali menjadi sorotan

dunia — bukan lewat pedang atau ilmu pengetahuan seperti delapan abad silam, melainkan lewat si kulit bundar. Tapi bagi siapa pun yang mengenal sejarah, sulit untuk tidak menengok ke belakang dan bertanya: apa yang tersisa dari kejayaan itu di tanah yang kini melahirkan generasi emas sepak bola?

Ketika Andalusia Menjadi Mercusuar Dunia

Kisah ini dimulai pada tahun 711 Masehi, ketika Thariq bin Ziyad memimpin pasukan Muslim menyeberangi selat yang memisahkan Afrika dan Eropa atas perintah Musa bin Nushair, gubernur Afrika Utara di bawah Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik dari Bani Umayyah. Pasukan yang jumlahnya jauh lebih kecil ini berhasil menaklukkan Kerajaan Visigoth yang saat itu berkuasa dengan tangan besi atas penduduk Semenanjung Iberia.

Dari titik itulah lahir Al-Andalus — wilayah yang kelak berkembang menjadi salah satu pusat peradaban paling maju di dunia selama hampir delapan abad. Puncaknya terjadi pada masa Kekhalifahan Umayyah di Cordoba, terutama di bawah Khalifah Abdurrahman III yang mendirikan kekhalifahan pada 929 M. Cordoba pada masa itu bukan sekadar kota besar; ia adalah kota terbersih, paling terang benderang di malam hari berkat lampu-lampu jalan, dan menyimpan ratusan ribu manuskrip di perpustakaannya — pada saat sebagian besar Eropa masih terlelap dalam Abad Kegelapan.

Dari sanalah lahir kemajuan di bidang kedokteran, matematika, astronomi, dan filsafat yang kelak mengalir ke seluruh Eropa lewat pusat-pusat penerjemahan seperti di Toledo, membentuk fondasi bagi kebangkitan intelektual Eropa sendiri.

Warisan yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kekuasaan politik Islam di Spanyol memang berakhir pada 1492, ketika Granada — kubu pertahanan terakhir — jatuh ke tangan Ferdinand dan Isabella. Tapi jejaknya tidak pernah benar-benar hilang. Berjalan hari ini di Cordoba, Sevilla, atau Granada, seseorang akan menemukan lengkungan tapal kuda Masjid Agung Cordoba (kini Katedral Mezquita), keanggunan Istana Alhambra dengan ukiran kaligrafi dan taman-taman Generalife-nya, atau reruntuhan megah Madinat al-Zahra yang dulu dijuluki "kota yang bersinar".

Bangunan-bangunan itu adalah saksi bisu dari sebuah era ketika toleransi antaragama dan pertukaran ilmu pengetahuan melahirkan salah satu peradaban paling maju dalam sejarah manusia. Warisan itu kini menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Spanyol modern — negeri yang sama yang nanti akan mempertaruhkan segalanya di lapangan hijau.

Spanyol Hari Ini: Dari Sejarah ke Sepak Bola

Spanyol melangkah ke final Piala Dunia 2026 sebagai tim pertama yang mengunci tiket, setelah memastikan tiket ke final usai mengalahkan Perancis dengan skor 2-0 pada laga semifinal di Dallas Stadium, Texas. Gol penalti Mikel Oyarzabal pada menit ke-22 dan eksekusi tenang Pedro Porro pada menit ke-58 memastikan La Roja sebagai tim pertama yang berhasil masuk ke final.

Di sisi lain, Argentina memastikan diri menantang Spanyol usai mengalahkan Inggris di semifinal dengan skor dramatis 2-1, setelah sempat tertinggal lewat gol Anthony Gordon sebelum bangkit lewat gol Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez.

Final ini akan mempertemukan dua juara bertahan dari benua yang berbeda: Spanyol sebagai juara bertahan Piala Eropa, dan Argentina sebagai juara bertahan Copa America. Bagi Spanyol, gelar Euro 2024 yang mereka raih menjadi trofi Piala Eropa keempat mereka setelah 1964, 2008, dan 2012. Sementara itu, bagi Spanyol ini merupakan laga final Piala Dunia yang kedua, sedangkan bagi Argentina ini adalah final ketujuh mereka di pesta bola dunia.

Pertandingan puncak ini akan digelar di MetLife Stadium, New York/New Jersey, pada Minggu, 19 Juli 2026 waktu setempat — yang jatuh pada Senin dini hari, 20 Juli 2026 pukul 02.00 WIB bagi penonton di Indonesia. Laga ini mempertemukan dua tim yang saat ini juga menempati dua posisi teratas dalam peringkat FIFA — Argentina di posisi pertama dan Spanyol di posisi kedua, dengan selisih poin yang sangat tipis.

Ketika Dua Kejayaan Bertemu dalam Satu Nama

Ada sesuatu yang puitis dalam kebetulan sejarah ini. Delapan abad lalu, Semenanjung Iberia menjadi tempat pertemuan peradaban — Islam, Kristen, dan Yahudi hidup berdampingan, saling menerjemahkan karya, saling membangun ilmu. Hari ini, tanah yang sama melahirkan sebuah tim nasional yang juga menjadi simbol pertemuan generasi: dari Xavi dan Iniesta di masa lalu, hingga Lamine Yamal yang masih berusia belasan tahun namun sudah menjadi bintang di panggung terbesar sepak bola dunia.

Cordoba yang dulu adalah kota ilmu pengetahuan, kini menjadi bagian dari negeri yang filosofi sepak bolanya — tiki-taka, penguasaan bola, kesabaran dalam membangun serangan — sering disebut sebagai bentuk "keindahan intelektual" dalam olahraga. Mungkin tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa semangat mencari kesempurnaan, baik dalam ilmu pengetahuan delapan abad lalu maupun dalam permainan sepak bola hari ini, adalah benang merah yang tak pernah putus dari tanah Andalusia.

Apa pun hasil dari laga final nanti, satu hal yang pasti: Spanyol, negeri yang pernah menjadi rumah bagi salah satu peradaban paling gemilang dalam sejarah Islam, sekali lagi membuktikan bahwa dirinya mampu melahirkan kejayaan — kali ini, di atas rumput hijau, di hadapan jutaan pasang mata dari seluruh dunia.


Catatan: Artikel ini menggabungkan konteks sejarah peradaban Islam di Spanyol (Al-Andalus) dengan perkembangan terkini Piala Dunia 2026 sebagai bentuk narasi reflektif, bukan klaim hubungan sebab-akibat langsung antara keduanya.