Memuat…
Terkini
Pencarian Terakhir
Belum ada pencarian.
Pencarian Populer
Olahraga

Dari Reruntuhan Gaza, Sorak Sorai untuk Seorang Anak Muslim yang Baru Saja Menjuarai Dunia

Share to :

– Di sebuah alun-alun yang dikelilingi bangunan-bangunan runtuh akibat bombardemen, ratusan warga Gaza berteriak histeris bukan karena ledakan, melainkan karena gol. Gol Mikel Oyarzabal, gol Pedro Porro, lalu peluit panjang tanda Spanyol melaju ke final Piala Dunia. Di tengah kehancuran itu, wajah yang mereka rayakan adalah wajah seorang remaja 19 tahun bernama Lamine Yamal — pemain yang beberapa hari kemudian mengangkat trofi juara dunia, dan yang sejak Mei lalu telah menjadi simbol harapan bagi mereka.

Kemenangan Spanyol atas Argentina 1-0 lewat gol extra time Ferran Torres di MetLife Stadium, New Jersey, Minggu (19/7), mengukuhkan Lamine Yamal sebagai juara dunia sekaligus salah satu wonderkid terbesar sepak bola modern. Namun bagi jutaan orang, terutama di Gaza, gelar itu terasa personal — karena jauh sebelum mengangkat trofi emas itu, Yamal telah lebih dulu memenangkan hati mereka.

Bendera yang Mengguncang Dunia

Semua bermula dari sebuah bus terbuka di jalanan Barcelona, 11 Mei 2026. Barcelona baru saja memastikan gelar La Liga setelah menaklukkan Real Madrid 2-0 di El Clásico. Sekitar 750 ribu pendukung tumpah ke jalan. Di tengah euforia itu, Yamal — yang absen di laga final karena cedera namun tetap ikut arak-arakan — meminta, mengambil, lalu mengibarkan bendera Palestina tinggi-tinggi dari atas bus, sambil disorot ribuan kamera ponsel.

Video itu menyebar dalam hitungan jam. Ia lalu mengunggah ulang momen tersebut ke akun Instagram pribadinya yang diikuti puluhan juta orang.

Sikap ini bukan kejutan bagi yang mengenal latar belakangnya. Lahir dari ayah asal Maroko dan ibu asal Guinea Ekuatorial, Yamal tumbuh dalam keluarga Muslim dan dikenal konsisten menjalankan puasa Ramadan di tengah jadwal padat Barcelona dan Timnas Spanyol. Sebelumnya, ia juga pernah secara terbuka mengecam nyanyian bernuansa islamofobia dari sebagian suporter saat laga persahabatan Spanyol melawan Mesir, menyebut pelakunya "ignorante y racista" — bodoh dan rasis.

Serangan dari Israel, Pembelaan dari Perdana Menteri

Tak semua menyambut gestur itu dengan tepuk tangan. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyebut tindakan Yamal sebagai upaya "menghasut kebencian terhadap Israel", sementara pasukannya "sedang memerangi organisasi teroris Hamas."

Namun hanya sekitar 11 jam kemudian, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez membalas lewat akun X pribadinya, dengan nada yang jauh dari diplomatis: siapa pun yang menganggap mengibarkan bendera sebuah negara sebagai "hasutan kebencian", tulisnya, "sudah kehilangan akal sehat atau dibutakan oleh rasa malu mereka sendiri."

"Lamine hanya mengekspresikan solidaritas terhadap Palestina yang dirasakan oleh jutaan warga Spanyol," lanjut Sánchez. "Satu alasan lagi untuk bangga kepadanya."

Pernyataan itu sejalan dengan sikap resmi Spanyol yang telah mengakui negara Palestina dan berulang kali menyerukan solusi dua negara serta penghentian penderitaan warga sipil di Gaza — posisi yang membuat hubungan Madrid dan Tel Aviv memburuk tajam sejak perang di Gaza meletus.

Ketika Wajahnya Dilukis di Atas Reruntuhan

Dua hari setelah parade itu, di kamp pengungsi Shati, pinggiran Kota Gaza, sekelompok seniman lokal menuruni puing-puing bangunan yang hancur akibat serangan udara. Bukan untuk mencari korban atau barang berharga — mereka datang membawa kuas dan cat.

Mural Lamine Yamal
Di Reruntuhan Tembok Gaza.

Di dinding yang tersisa dari sebuah rumah yang telah rata dengan tanah, mereka melukis wajah Lamine Yamal, lengkap dengan bendera Palestina yang ia kibarkan dari atas bus. Bagi warga yang hidup di tengah kehancuran itu, mural tersebut menjadi salah satu simbol paling nyata bahwa dunia — atau setidaknya sebagian kecil darinya — masih melihat mereka.

Dua bulan kemudian, ketika Spanyol memastikan tempat di final Piala Dunia 2026, warga Gaza kembali turun ke jalan yang sama, di antara reruntuhan yang sama. Mereka bersorak untuk setiap gol Spanyol seolah-olah kemenangan itu adalah kemenangan mereka sendiri. Seorang kreator konten Palestina bahkan mengenakan jersey timnas Spanyol dan menulis di media sosial: "Dari Gaza untuk rakyat Spanyol, selamat atas kemenangannya."

Lebih dari Sekadar Trofi

Kini, dengan medali emas juara dunia melingkar di lehernya, Lamine Yamal pulang bukan hanya sebagai pesepak bola termuda yang pernah mengangkat trofi paling bergengsi di dunia. Ia pulang sebagai bukti hidup bahwa seorang atlet remaja — di tengah tekanan sorotan global, kontrak jutaan dolar, dan ekspektasi seluruh negara — masih bisa memilih untuk tidak diam.

Di sebuah kota yang porak-poranda oleh perang, wajahnya kini menempel di dinding yang tersisa. Dan di sanalah, mungkin, kemenangan sesungguhnya berada — bukan di podium New Jersey, melainkan di mata orang-orang yang untuk sesaat, lewat sehelai kain merah-putih-hijau-hitam, merasa tidak sendirian.

Sumber:

  • AFP / Euronews — "Spain's PM Pedro Sánchez 'proud' of Barcelona's Yamal in Palestinian flag row"
  • Al Jazeera — "Lamine Yamal waves Palestine flag as Barcelona celebrate La Liga win"
  • Al Jazeera — "Lamine Yamal's Palestine flag wave hailed by fans, activists and athletes"
  • El Diario (grup media yang sama dengan liputan Cadena SER) — "Palestina celebra el pase de España a la final del Mundial tras su apoyo a Gaza"
  • La Jornada — "Pedro Sánchez se muestra 'orgulloso' de Lamine Yamal por haber ondeado bandera palestina"
  • NPR / ABC News / ESPN — liputan final Piala Dunia 2026, Spanyol vs Argentina, 19 Juli 2026