Memuat…
Terkini
Pencarian Terakhir
Belum ada pencarian.
Pencarian Populer

Lifestyle Muslim

Satu Anak Durhaka Bisa Memicu Depresi Orang Tua? Penelitian Ilmiah Membuktikannya, Islam Sudah Mengajarkannya Sejak 1.400 Tahun Lalu

Kesehatan Mental Lansia

Pendahuluan

Hubungan antara orang tua dan anak bukan hanya membentuk keharmonisan keluarga, tetapi juga berpengaruh besar terhadap kesehatan mental, terutama ketika orang tua memasuki usia lanjut. Sebuah penelitian terbaru dari University at Buffalo (UB) mengungkap fakta yang mengejutkan: hubungan yang buruk dengan satu orang anak saja dapat meningkatkan risiko depresi pada lansia, meskipun hubungan dengan anak-anak lainnya tetap harmonis.

Temuan ini bukan sekadar menjadi perhatian dunia psikologi dan kesehatan masyarakat. Bagi seorang muslim, hasil penelitian tersebut memperlihatkan bagaimana tuntunan Islam tentang Birrul Walidain (berbakti kepada kedua orang tua) memiliki hikmah yang luar biasa dalam menjaga ketenteraman jiwa orang tua.


Penelitian: Satu Hubungan yang Buruk Dapat Menghancurkan Kesehatan Mental Lansia

Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Chang Yu dari University at Buffalo bersama peneliti dari Yale University dan University of California Berkeley menganalisis data 3.519 lansia di Tiongkok menggunakan China Longitudinal Aging Social Survey (CLASS) selama periode 2014–2020.

Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam The Journals of Gerontology: Series B tersebut menunjukkan bahwa kualitas hubungan dengan anak yang paling renggang menjadi faktor yang paling kuat dalam memprediksi munculnya gejala depresi pada orang tua.

Menariknya, perhatian dan kasih sayang dari anak-anak lainnya tidak mampu sepenuhnya menghapus dampak negatif dari satu hubungan yang rusak tersebut.

Menurut para peneliti, konflik yang berkepanjangan dengan seorang anak dapat mengikis harga diri orang tua, memicu stres kronis, dan merusak kondisi psikologis mereka.

Penelitian juga menemukan bahwa hubungan keluarga bersifat dinamis. Ketika hubungan membaik, gejala depresi ikut menurun. Sebaliknya, ketika hubungan semakin buruk, kondisi mental lansia ikut memburuk.

Dampak tersebut lebih besar dirasakan oleh lansia dengan kondisi ekonomi rendah karena mereka lebih bergantung pada dukungan emosional maupun fisik dari anak-anaknya.

Temuan ini mendorong para peneliti agar tenaga kesehatan dan pekerja sosial tidak hanya menanyakan apakah lansia mendapat dukungan dari anak-anaknya, tetapi juga mencari tahu apakah terdapat konflik dengan salah satu anak.


Islam Telah Memberikan Solusinya

Jauh sebelum ilmu psikologi modern berkembang, Islam telah mengajarkan adab yang sangat rinci dalam memperlakukan kedua orang tua. Perintah tersebut bukan sekadar menjaga hubungan keluarga, tetapi juga melindungi hati dan jiwa mereka.

1. Jangan Pernah Menyakiti Hati Orang Tua

Allah Ta'ala berfirman,

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah', jangan membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia." (QS. Al-Isra': 23)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam melarang segala bentuk perilaku yang dapat melukai hati orang tua, bahkan ucapan yang paling ringan sekalipun.

Rasulullah ﷺ bersabda,

"Maukah aku kabarkan kepada kalian dosa-dosa yang paling besar?" Beliau mengulanginya tiga kali. Para sahabat menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua." (HR. Al-Bukhari no. 2654 dan Muslim no. 87)

Penelitian modern membuktikan bahwa luka emosional akibat perlakuan anak dapat berkembang menjadi depresi. Islam telah menutup pintu menuju kerusakan tersebut sejak lebih dari empat belas abad yang lalu.


2. Berbakti kepada Orang Tua Adalah Kewajiban Setiap Anak

Penelitian menunjukkan bahwa hubungan baik dengan anak-anak lain tidak mampu menghapus dampak buruk akibat satu anak yang menyakiti orang tuanya.

Islam juga mengajarkan bahwa setiap anak memiliki tanggung jawab pribadi untuk berbakti kepada kedua orang tuanya.

Allah Ta'ala berfirman,

"Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya." (QS. Al-Ahqaf: 15)

Rasulullah ﷺ bersabda,

"Keridaan Allah bergantung pada keridaan orang tua dan kemurkaan Allah bergantung pada kemurkaan orang tua." (HR. At-Tirmidzi no. 1899, dihasankan oleh para ulama)

Karena itu, bakti seorang anak tidak dapat digantikan oleh saudaranya. Setiap anak bertanggung jawab atas sikapnya sendiri di hadapan Allah.


3. Masa Tua Orang Tua Adalah Fase yang Paling Membutuhkan Kasih Sayang

Allah Ta'ala berfirman,

"Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, 'Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku ketika kecil.'" (QS. Al-Isra': 24)

Ayat ini menunjukkan bahwa semakin tua usia orang tua, semakin besar kewajiban seorang anak untuk menunjukkan kelembutan dan kasih sayang.

Rasulullah ﷺ bersabda,

"Sungguh hina, sungguh hina, sungguh hina." Para sahabat bertanya, "Siapa wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Orang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya telah lanjut usia, tetapi ia tidak masuk surga." (HR. Muslim no. 2551)

Hadits ini menunjukkan bahwa masa tua orang tua merupakan kesempatan terbesar bagi seorang anak untuk meraih ridha Allah.


4. Jangan Menunda Memperbaiki Hubungan dengan Orang Tua

Penelitian University at Buffalo menunjukkan bahwa membaiknya hubungan antara anak dan orang tua berkaitan erat dengan menurunnya gejala depresi pada lansia.

Islam juga memerintahkan agar seorang anak segera memperbaiki hubungannya dengan kedua orang tua, meminta maaf apabila pernah menyakiti mereka, serta terus berusaha membahagiakan hati keduanya.

Allah Ta'ala berfirman,

"Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Kulah tempat kembali." (QS. Luqman: 14)

Selama orang tua masih hidup, kesempatan untuk berbakti masih terbuka. Jangan sampai penyesalan datang ketika kesempatan itu telah berakhir.


Penutup

Penelitian dari University at Buffalo memberikan bukti bahwa hubungan emosional antara orang tua dan anak memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kesehatan mental lansia. Satu hubungan yang retak dapat menjadi penyebab munculnya depresi, meskipun hubungan dengan anak-anak lainnya baik.

Bagi umat Islam, temuan ini semakin memperlihatkan hikmah syariat tentang Birrul Walidain. Islam tidak hanya memerintahkan anak untuk memenuhi kebutuhan materi orang tua, tetapi juga menjaga lisan, sikap, perhatian, dan kasih sayang kepada mereka.

Temuan ilmiah modern ini selaras dengan ajaran Al-Qur'an dan Sunnah yang telah mengingatkan pentingnya menjaga hati kedua orang tua sejak lebih dari 1.400 tahun yang lalu.


Referensi

  1. Yu, Chang., Zang, Emily., & Gong, Jiaowei. The Worst Tie Matters: Longitudinal Associations Between Parent–Adult Child Relationship Quality and Depressive Symptoms Among Older Adults in China. The Journals of Gerontology: Series B: Psychological Sciences and Social Sciences, 2026.

  2. University at Buffalo. Mental health of older adults in China linked to quality of relationship with adult children. https://www.buffalo.edu/news/releases/2026/07/Mental-health-older-adults-China.html

Bagikan Artikel Ini