Menjadi orang tua di era digital bukan perkara mudah. Anak-anak remaja kita tumbuh di tengah derasnya arus tren, tekanan pergaulan (peer pressure), dan godaan media sosial yang datang setiap detik lewat layar HP. Kajian bertajuk "Berani Jadi Beda" oleh Ustadz Abdurrahman Zahier, BBA, hadir sebagai bekal penting—bukan hanya untuk remaja usia 11 tahun ke atas yang menjadi audiens utamanya, tetapi juga sebagai panduan bagi orang tua dalam mendampingi buah hati menghadapi dunia yang serba cepat berubah ini.
Berikut rangkuman lengkap isi kajian tersebut, disajikan dari sudut pandang yang bisa menjadi bahan diskusi orang tua dan anak di rumah.
1. Teladan "Berani Beda" dari Kisah Para Nabi
Ustadz membuka kajian dengan mengingatkan bahwa keberanian tampil beda bukanlah konsep baru—ia telah dicontohkan sejak ribuan tahun lalu. Nabi Ibrahim 'alaihissalam sudah mulai berdakwah menentang kesyirikan sejak usia remaja. Ia berani tampil beda seorang diri melawan ayahnya sendiri, teman-temannya, bahkan satu negerinya, sampai rela dibakar demi mempertahankan tauhid.
Begitu pula Nabi Musa dan para pemuda Ashabul Kahfi. Kisah mereka diabadikan dalam Al-Qur'an karena keberanian melarikan diri dari kerusakan zaman dan memilih berbeda dari mayoritas masyarakat pada masanya.
Bagi orang tua: kisah-kisah ini bisa menjadi pembuka obrolan yang efektif. Alih-alih hanya menasihati "jangan ikut-ikutan teman", ceritakan kembali kisah Nabi Ibrahim sebagai remaja yang berani berbeda—anak akan lebih mudah menyerap nilai lewat kisah teladan dibanding lewat perintah langsung.
2. Makna "Berani Beda" yang Sesungguhnya (Bukan Asal Beda)
Poin penting yang ditekankan Ustadz: "berani beda" bukan berarti memakai seragam olahraga saat teman-teman memakai seragam putih-putih, atau sengaja melawan guru. Itu bukan keberanian, melainkan keburukan.
Berani beda untuk remaja masa kini artinya:
Tidak FOMO (Fear of Missing Out) atau ikut-ikutan "menyembah" trending topic yang tidak penting—seperti joget-joget di FYP TikTok atau kecanduan game online (FF, ML, dan sejenisnya).
Berani menolak ajakan teman untuk melakukan hal buruk, seperti: merokok (termasuk vape), bolos sekolah, pacaran, bullying, tawuran, mencontek, hingga judi online.
Ustadz Zahier juga mengutip pepatah yang sangat relevan untuk ditanamkan pada anak:
"Sedikit lebih beda lebih baik, daripada sedikit lebih baik."
Maksudnya, jangan tanggung-tanggung dalam meninggalkan keburukan. Daripada sekadar "merokok lebih sedikit" dari teman-temannya, jauh lebih baik jika anak "berbeda sama sekali" dengan tidak merokok sama sekali.
Bagi orang tua: ini adalah momen tepat untuk mendiskusikan batasan yang jelas dan tegas di rumah, bukan kompromi setengah-setengah. Anak perlu memahami bahwa menjauhi keburukan secara total lebih mudah dijalani daripada mencoba "mengurangi" sedikit demi sedikit.
3. Membekali Anak Merespon Bullying (Perundungan)
Salah satu realita pahit yang diungkap dalam kajian ini: remaja yang mencoba berani beda di atas kebenaran—misalnya lebih alim atau rajin beribadah—justru kerap menjadi korban cancel culture atau bullying, baik secara fisik maupun verbal (dikatain cupu, sok alim, sok suci, rasis, dan sebagainya).
Ustadz mengangkat kembali kisah Nabi Ibrahim yang di-bully dan bahkan diancam dirajam oleh ayahnya sendiri. Namun balasan Nabi Ibrahim justru mendoakan ayahnya.
Tips praktis yang dibagikan untuk menghadapi bully:
Jangan memberikan respons negatif (menangis, marah, murung), karena itulah yang justru diinginkan pelaku.
Berikan respons positif yang tidak terduga—seperti mengucapkan terima kasih, tersenyum, atau bahkan mentraktir mereka. Pelaku bully biasanya akan kebingungan dan berhenti dengan sendirinya.
Bagi orang tua: penting untuk membuka ruang aman di rumah agar anak mau bercerita jika mengalami bullying, tanpa takut dimarahi atau dianggap lemah. Latih anak dengan skenario nyata di rumah agar strategi merespons secara positif ini benar-benar siap dipraktikkan, bukan sekadar teori.
4. Jangan Eksklusif—Jadilah "Duta Sunnah" yang Asyik
Dalam sesi tanya jawab, muncul pertanyaan dari remaja yang merasa menjadi minoritas di sekolah umum atau lingkungan yang belum mengenal manhaj salaf. Ustadz berpesan:
Jangan malu menampakkan sunnah, misalnya memakai hijab panjang.
Jangan eksklusif atau menutup diri—tetap bergaul dengan sangat baik kepada siapa saja.
Jadilah pribadi yang murah senyum, mau menatap mata teman saat mengobrol (bukan sibuk main HP saat diajak bicara), suka berbagi makanan atau mentraktir, dan gemar memberi hadiah.
Dengan akhlak (lisanul hal, bahasa perbuatan) yang menyenangkan seperti ini, teman-teman di sekitar akan melihat bahwa orang yang mengenal sunnah ternyata sangat ramah dan baik hati. Inilah bentuk dakwah terbaik—dakwah lewat keteladanan, bukan lewat kata-kata semata.
Bagi orang tua: ajarkan anak bahwa menjadi berbeda bukan berarti menjadi dingin atau menjauh dari lingkungan sosialnya. Justru sebaliknya, keramahan dan akhlak yang baik adalah "jembatan" agar kebaikan yang dijalani anak bisa memberi pengaruh positif ke sekitarnya.
5. Menyeleksi Lingkaran Pertemanan (Ring 1)
Poin terakhir yang tak kalah penting: anak tetap perlu bergaul dengan siapa saja, namun tetap harus memiliki lapisan atau seleksi dalam pertemanan.
Circle 1 (Ring 1), yaitu sahabat terdekat, sebaiknya diisi oleh orang-orang saleh yang saling menggandeng tangan menuju kebaikan bersama.
Untuk teman-teman yang jauh dari agama atau bahkan membawa pengaruh buruk, posisikan mereka di lingkaran luar—sekadar kenal dan tetap disapa dengan baik. Anak tetap wajib berdakwah kepada mereka lewat sikap dan akhlak, namun tidak perlu menjadikan mereka sahabat karib agar keimanan tidak ikut tergerus.
Bagi orang tua: ini adalah kesempatan untuk mengajak anak mengenali lingkaran pertemanannya sendiri—siapa yang benar-benar mendukungnya dalam kebaikan, dan siapa yang perlu tetap disikapi dengan baik namun tidak dijadikan tempat berbagi rahasia atau pengaruh utama dalam hidupnya.
Penutup: Peran Orang Tua dalam Membentuk Keberanian Anak
Kajian "Berani Jadi Beda" ini pada dasarnya mengajarkan satu hal mendasar: keberanian untuk berbeda di jalan kebenaran bukanlah beban, melainkan identitas yang perlu dibangun sejak dini. Peran orang tua sangat krusial di sini—bukan hanya dengan melarang atau menasihati, tetapi dengan menjadi teladan, membuka ruang diskusi, dan membekali anak dengan kisah-kisah serta strategi nyata seperti yang dipaparkan dalam kajian ini.
Dengan bekal yang tepat, remaja muslim tidak perlu takut tampil beda demi mempertahankan nilai-nilai kebaikan—justru sebaliknya, mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang berani, berakhlak mulia, dan tetap disukai oleh lingkungan sekitarnya.
Tonton selengkapnya di video.