![]() |
| Paradoks Finansial Gen Z dan Milenial |
Generasi Z dan Milenial saat ini menghadapi lanskap keuangan yang penuh dengan kontradiksi. Di satu sisi, akses teknologi membuat mereka sangat melek investasi. Namun, di sisi lain, kemudahan akses kredit dan tekanan sosial menciptakan jurang utang yang membahayakan masa depan finansial mereka. Berikut adalah tiga realita utama kondisi keuangan anak muda saat ini.
1. Gelombang Investor Muda dan Jebakan FOMO
Pasar modal Indonesia kini didominasi oleh anak muda. Data terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per awal Januari 2026 menunjukkan bahwa lebih dari 70% investor ritel berasal dari kalangan Gen Z dan Milenial, meningkat signifikan dari sekitar 55% pada tahun 2024 (Kompas.com, 2 Januari 2026). Berbekal ponsel pintar, mereka dengan antusias menaruh dana pada reksa dana, saham, hingga aset kripto.
Sayangnya, tingginya partisipasi ini sering kali tidak dibarengi dengan literasi keuangan yang memadai. Banyak dari mereka mengambil keputusan finansial hanya bermodalkan ikut-ikutan tren atau Fear of Missing Out (FOMO). Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, bahkan mengeluarkan peringatan khusus terkait risiko manipulasi pasar atau "saham gorengan" yang mengintai investor pemula tanpa fondasi dana darurat yang kuat (SWA.co.id).
2. Utang Konsumtif Berkedok Paylater
Fasilitas Buy Now Pay Later (BNPL) atau pinjaman online (pinjol) kini telah bergeser dari sekadar alternatif pembayaran menjadi gaya hidup. Data menunjukkan partisipasi pengguna paylater mencapai 39,94% dari Gen Z dan 48,27% dari kalangan Milenial per April 2025, menjadikan anak muda sebagai kelompok debitur terbesar dengan total utang paylater tembus Rp29,59 triliun (Tempo.co).
Mentalitas You Only Live Once (YOLO) serta dorongan untuk tampil eksis di media sosial membuat banyak anak muda rentan menggunakan fasilitas ini. Alih-alih digunakan untuk kebutuhan produktif, pinjaman kerap dihabiskan untuk membeli barang konsumtif demi gengsi — sebuah temuan yang juga dilaporkan oleh harian Kompas yang mewawancarai langsung pengguna BNPL yang terjerat utang (Kompas.id). Akibatnya, angka gagal bayar dan tumpukan utang digital di kalangan generasi muda terus mencatatkan lonjakan yang mengkhawatirkan.
3. Tekanan Inflasi dan Beban Generasi Sandwich
Di luar masalah gaya hidup, anak muda juga dihadapkan pada realita makroekonomi yang keras. Kenaikan inflasi pada sektor-sektor esensial seperti pangan, transportasi, dan perumahan tidak sebanding dengan kenaikan gaji yang cenderung stagnan.
Beban ini terasa semakin berat bagi mereka yang berstatus sebagai generasi sandwich — individu yang harus menanggung biaya hidup diri sendiri sekaligus menghidupi orang tua atau adik-adiknya. Impitan ekonomi ini membuat perencanaan keuangan jangka panjang menjadi sangat sulit, memaksa banyak pekerja muda untuk mencari penghasilan tambahan atau side hustle demi bisa bertahan hidup.
Sumber Referensi:
1. Kompas.com, "Investor Ritel Kuasai Separuh Transaksi Saham, Didominasi Milenial dan Gen Z" (2 Januari 2026) – baca selengkapnya
2. SWA.co.id, "Sekitar 70% Investor Ritel dari Gen Y dan Gen Z, OJK Memacu Pendalaman Pasar" – baca selengkapnya
3. Tempo.co, "Generasi Milenial dan Gen Z Dominasi Utang Paylater Mencapai Rp 29,59 Triliun" – baca selengkapnya
4. Kompas.id, "Gen Z dan Milenial Pakai Paylater untuk Konsumtif, Bukan Produktif" – baca selengkapnya
